BAHASA INDONESIA; PELAFALAN PENGGUNAAN HURUF

“Pelafalan dan Penggunaan Huruf”

PENDAHULUAN
Pembelajaran bahasa Indonesia yang dilakukan secara tematik, artinya bahwa tiap kegiatan berbahasa pastilah berpangkal pada tema tertentu. Implikasinya, secara operasional suatu sajian pembelajaran bahasa Indonesia di dalam suatu pertemuan haruslah menggunakan suatu tema tertentu. Misalnya, jika dalam suatu pertemuan dipilih tema teknologi, diskusinya tentang teknologi, begitu pula kosakatanya, latihan menulisnya, dan sebagainya.
            Di samping secara tematik, pembelajaran bahasa Indonesia juga dilakukan secara integratif. Artinya, pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan memadukan empat keterampilan berbahasa, yakni keterampilan mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Ini sering disebut dengan keterpaduan internal. Sementara itu, pembelajaran bahasa Indonesia dapat juga dipadukan dengan bidang studi lain, seperti: Matematika, IPA, dan IPS (keterpaduan eksternal). Apa yang disarankan oleh BSNP itu pada hakikatnya sesuai dengan pandangan para pakar bahasa tentang whole language (Goodman, 1986), suatu konsep yang menyatakan bahwa bahasa bukanlah barang serpih-serpih yang terpisah, melainkan sebagai suatu keseluruhan utuh. Implikasinya dalam pengajaran ialah bahasa harus diajarkan secara utuh sebagai suatu sistem yang terpadu. Kedua cara tersebut jelas saling melengkapi satu sama lain, karena suatu tema akan memadukan seluruh kegiatan berbahasa, baik pada tingkat perencanaan maupun pada tingkat pelaksanaan di dalam kelas.

PEMBAHASAN
A. Pelafalan Dan Pemakaian Huruf
     1. Pelafalan
Pelafalan adalah suatu cara seseorang atau sekelompok orang dalam mengucapkan bunyi bahasa. Salah satu hal yang dasar dalam ejaan ialah cara pelafalan atau cara pengucapan dalam bahasa indonesia. Pada akhir-akhir ini kita sering mendengar orang melafalkan bunyi bahasa Indonesia dengan keraguan. Keraguan yang dimaksud adalah ketidakteraturan pengguna bahasa dalam melafalkan huruf.kesalahan pelafalan dapat terjadi karena lambang (huruf) diucapkan tidak sesuai dengan bunyi yang melambangkan huruf tersebut.
Kaidah pelafalan bunyi bahasa Indonesia berbeda dengan kaidah bunyi bahasa lain, terutama bahasa asing, seperti bahasa Ingris, bahasa Belanda, dan bahasa Jerman. Dalam bahasa tersebut, satu bunyi yang dilambangkan dengan satu huruf, misalnya a atau g, dapat diucapkan dengan berbagai wujud bunyi bergantung pada bunyi atau fonen yang ada disekitarnya. Lain halnya dengan bahasa Indonesia, ketentuan pelafalan yang berlaku dalam bahasa Indonesia cukup sederhana, yaitu bunyi-bunyi dlam bahasa Indonesia harus dilafalkan sesuai dengan apa yang tertulis.tegasnya, lafal dalam bahasa Indonesia disesuaikan dengan tulisan.
Perhatikan contoh:
Kata
Pelafalan
Salah
Benar
Teknik
Tehnik
T e k n i k
Tegel
Tehel
T e g e l
energi
Enerhi, Enersi, Enerji
E n e r g i
           







          Masalah lain yang sering munculdalam pelafalan ialah mengenai singkatan katadengan huruf. Sebaiknya pemakaian bahasa memperhatikan pelafalan yang benar seperti yang sudah dilakukan dalam ejaan seperti:
Kata
Pelafalan
Salah
Benar
Tv
Tivi
Te ve
MTQ
Emtekyu, Emtekui,
Em te ki






            Hal yang perlu mendapat perhatian ialah mengenaipemakaian dan pelafalan hurufpada penulisan dan pelafalan nama diri. Di dalam kaidah ejaan dikatakan bahwa penulisan dan pelafalan nama diri, yaitu nama orang, dan hukum, lembaga, jalan, kota, sungai, gunung, dan sebagainya disesuaikan dengan kaidah ejaan yang berlaku kecuali kalau ada pertimbangan lain. Demikian pula dengan pelafalan unsur kimia, nama minuman, atau nama obat-obatan, bergantung pada kebiasan yang berlaku,untuk nama tersebut. Seperti:
Kata
Pelafalan
Salah
Benar
Coca cola
Coca cola
Ko ka ko la
CO2
CO2
Se O2






            Kaidah pelafalan bunyi “h”. Pelafalan bunyi “h” ada aturannya dalam bahasa Indonesia. Bunyi “h” yang terletak diantara dua vokal yang sama harus dilafalkan dengan jelas, seperti: mahal, pohon, sihir.
Bunyi “h” yang terletak diantara dua vokal yang berbeda dilafalkan dengan lemah atau hampir tak kedengaran seperti: lihat, tahun, pahit. Bunyi “h” pada kata seperti itu umumnya dilafalkan dengan bunyi luncur “w” atau “y” yaitu: liyat, tawun, payitaturan ini tidak berlaku bagi kata-kata pungut, karena lafal kata pungut disesuaikan dengan lafal bahasa asalnya, seperti: lahir mahir, kohesi.

    2. Pemakaian Huruf
Ejaan bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) dikenal paling banyak menggunakan huruf abjad. Sampai saat ini jumlah huruf abjad yang digunakan sebanyak 26 buah.
 a) Huruf Abjad
            Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf berikut. Nama setiap huruf disertakan disebelahnya.
Huruf
Lafal
Huruf
Lafal
Huruf
Lafal
A a
B b
C c
D d
E e
F f
G g
H h
I i
A
Be
Ce
De
E
Ef
Ge
Ha
I
J j
K k
L l
M m
N n
O o
P p
Q q
R r
Je
Ka
El
Em
En
O
Pe
Qi
Er
S s
T t
U u
V v
W w
X x
Y y
Z z
Es
Te
U
Ve
We
Eks
Ye
Zet
b) Huruf Vokal
         Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.
Contoh:
Huruf
Contoh Pemakaian
Di depean
Di tengah
Di belakang
A
Angsa
Batas
Luka
e*
Elok
Peta
Sate
Enau
Serat
Metode
I
Indah
Pilu
Bahari
Ibarat
Rimba
Prasasti
O
Orang
Koreksi
Porto

Otak
Potong
Kado
U
Usang
Asuh
Waktu
Umpan
Turis
Baru

Contoh :
-          Ibu duduk di teras rumah
-          Dia putra pejabat teras di kota ini
c) Huruf Konsonan
        Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
d) Huruf Diftong
        Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.
Contoh:
Huruf
Contoh Pemakaian
Di depan
Di tengah
Di belakang
Ai
-
-
Pantai
-
-
Damai
Au
Aus
Saudara
Beliau
Aula
Saudagar
Kemarau
Oi
-
-
Amboi
e) Gabungan Huruf Konsonan
        Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, (diagraf) sebanyak empat pasang:
Konsonan
Seperti dalam kata
kh
khusus, akhir
ng
ngilu, bangun
ny
nyata, anyam
sy
syair, asyik

Setiap pasangan itu menghasilkan satu fenomena atau satu bunyi, Karna itu, kh, ng, ny, sy masing-masing dihitung sebagai satu k.
     f) Huruf Kapital
         1.      Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf  pertama kata pada awal kalimat.      
         2.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
         3.     Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan  dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
         4.     Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, kehormatan, keturunan dan keagamaan yang diikuti nama orang.
        5.     Huruf kapital dipakai sebangai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama intansi, atau nama tempat.
        6.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang.
        7.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
        8.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tuhan, bulan, hari raya, dan pristiwa sejarah.
        9.      Huruf kapital dipakai sebaga huruf pertama nama geografi, namun tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
        10.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan.
        11.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal
        12.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan, nama gelar, pangkat, dan sapaan.
        13.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan pengacuan.
        14.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
    g)     Huruf Miring
          1.      Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah atau surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
         2.   Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata atau sekelompok kata.
        3.      a. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia.
       b. ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan sebagai bahasa Indonesia.
 h.  Huruf Tebal  
      1. Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks dan lampiran. 
     2. Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf , bagian  kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf miring. 
     3. Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi. 

KESIMPULAN
  1. Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran, dan bagaimana menghubungkan serta memisahkan lambang-lambang. Secara teknis, ejaan adalah aturan penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan penulisan tanda baca.
  2. Ejaan yang berlaku sekarang ini adalah ejaan yang telah ditetapkan dan diberlakukan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
  3. Ada banyak sekali tata cara penulisan huruf kapital, yang kesemuanya telah diatur dalam pedoman umum Ejaan yang Disempurnakan (EYD).
  4. Akan halnya dengan penulisan huruf besar, penulisan tanda bacapun telah diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
ü  REFERENCE
ü  Carolus Bram.  2012.
ü  Dayinta Phinastika. 2012.
ü  Bahasa Indonesiasib. 2008. Sejarah Bahasa Indonesia menuju Ejaan Yang Disempurnakan.
ü Negara, Kesuma. 2012. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang disempurnakan. Jakarta: Agogos Publishing
ü  Ketentuan pemakaian EYD beserta contoh sebagian besar dikutif dari buku pedoman umum ejaan yang disempurnakan. ( jakarta: balai pustaka 1991 ).
ü  PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN ~EYD~

Komentar